Rabu, 11 November 2009

7 Strategi Hindari Penculikan Anak

PENCULIKAN anak akhir-akhir ini bukanlah kali pertama atau hal yang baru. Sudah sejak lama kasus kejahatan yang dilatarbelakangi berbagai motif ini terjadi. Penculikan anak sangat menggelisah para orangtua. Betapa tidak, para pelaku tak segan-segan melakukan tindak kekerasan bila tujuannya tidak tercapai. Ancaman mereka kerap bukan omong kosong. Para penculik biasanya akan meminta uang tebusan atas anak yang mereka culik. Celakanya, mereka tidak ingin keluarga dari korban penculikan melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak yang berwajib.


Berikut beberapa kiat-kiat untuk menghindari penculikan anak.

Ingatkan Anak Anda

Usahakan untuk selalu mengingatkan anak Anda agar tidak percaya pada orang begitu saja, apalagi yang baru saja dikenal. Tidak jarang para pelaku penculikan menggunakan barang berupa mainan atau sejenis jajanan dengan rupa menarik agar sang anak mau mengikutinya. Sebaiknya anak ditemani selama perjalanan menuju sekolah atau tempat aktivitas yang lainnya. Bila Anda tidak memiliki waktu khusus, percayakan pada pengasuh yang sudah terpercaya.

Waspada

Bukan berburuk sangka, namun tidak ada salahnya bila tetap waspada terhadap karyawan-karyawan Anda. Pastikan pula orang rumah (sopir, pembantu atau mantan pembantu, mantan sopir ) bukan berasal dari kalangan orang yang memiliki sifat jahat. Karena itu, sebelum Anda merekrut mereka menjadi karyawan, teliti baik-baik latar belakangnya. Karena tidak sedikit para penculik sengaja menggunakan pembantu yang disalurkan sebagai perantara untuk memuluskan rencananya. Atau, bisa jadi calon karyawan yang Anda rekrut sudah tahu pasti situasi rumah Anda. Ini akan lebih berbahaya lagi.

Jangan Beri Kesempatan

Ini penting buat Anda yang jarang di rumah. Waktu Anda sedang di kantor atau di tempat lain, biasanya hal ini akan menjadi waktu kemenangan bagi para karyawan karena tidak terpantau. Oleh karena itu, jangan beri kesempatan pada karyawan untuk terlalu sering membiarkan orang lain datang ke rumah Anda. Terutama orang-orang yang hanya sekedar iseng ingin menemui atau berbincang-bincang dengan karyawan Anda.

Jangan Memancing

Meskipun mampu, sebaiknya anak Anda tidak perlu mengenakan perhiasan yang menyolok atau membawa barang-barang mahal lainnya. Hal ini memicu terjadinya penculikan.

Komunikasi

Sesibuk apapun Anda, sempatkan untuk tetap berkomunikasi dengan anak. Paling tidak untuk mengetahui keadaan dan lokasi keberadaan anak Anda. Begitu pula dengan pihak sekolah. Di sekolah, orangtua harus tahu persis jam belajar sekolah dan dengan siapa anak berangkat dan pulang sekolah. Beri tahu pihak sekolah orang yang sudah Anda percaya untuk mengantar dan menjemput anak Anda.

Pastikan Sekolah Bertanggungjawab

Anda perlu memastikan pihak sekolah agar bersikap tegas dan bertanggungjawab terhadap anak didiknya selama berada di sekolah. Termasuk memperhatikan orang yang biasa mengantar jemput anak-anak. Jika ada penjemput yang baru, sebaiknya pihak sekolah atau guru terlebih dulu menghubungi orangtua anak yang bersangkutan.

Tanggap Terhadap Bahaya Penculikan

Bila penculikan benar-benar terjadi, Anda harus mengetahui apa yang harus Anda lakukan. Pertama, berani melaporkan penculikan tersebut pada pihak kepolisian meski ada ancaman dari pihak penculik. Anda bisa melaporkannya secara berlebihan bila pelaku belum tertangkap karena justru akan membahayakan nasib korban

Resep Harmonis Ersa Mayori

CINTA menjadi dasar utama membangun rumah tangga yang bahagia. Namun untuk mempertahankan pernikahan, tak semudah membalikkan telapak tangan. Kedua pihak harus sama-sama menjaganya. Demikian seperti yang dilakukan Ersa Mayori.


"Saya dan suami harus sama-sama menjaga keharmonisan rumah tangga, anak. Caranya, kalau ada masalah tergantung siapa yang mengalah dan harus dituntaskan," ucap Ersa saat ditemui di fX Plaza, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (7/11/2009).

Selain itu, wanita yang gemar merawat tubuh di salon kecantikan ini pun selalu berusaha menjaga komunikasi yang baik.

"Selama enam tahun bersama, kita selalu menjaga komunikasi dan menjauhkan dari hal-hal negatif," tutur wanita cantik kelahiran Jakarta, 16 Mei 1979 ini.

Tak hanya itu saja, pemilik bobot tubuh 51 kg ini pun senantiasa memaksimalkan waktunya bersama sang suami.

"Kita selalu menyempatkan waktu berdua untuk nonton, lebih banyak sharing, dan menghayal ke depan. Apalagi, karena anak sudah sekolah dan tidak bisa pergi setiap hari, makanya kita harus memaksimalkan waktu berdua,"

'Bom' Bayi? No Problem!

ADA ungkapan yang mengatakan bahwa memiliki bayi layaknya melempar "granat" ke dalam pernikahan. Hah "granat"? Ya! Anda seperti mendapat serangan tiba-tiba di dalam rumah.


Sejak memiliki baby, sepertinya rumah tak pernah rapi. Mulai dari tumpukan popok basah, pakaian kotor, sampai botol susu berserakan. Belum lagi tangisan bayi yang memekakkan telinga membuat Anda "tegangan" tinggi.

Nah, sebelum "granat" itu benar-benar meledak, pelajari dulu apa saja yang bakal menyerang Anda berikut solusinya:

Perubahan Hidup

Layaknya seorang jenderal berperang, Anda musti memiliki mata elang untuk memantau hidup si kecil. Sejak bangun tidur, beraktivitas, hingga dia tertidur lagi. Kenyataannya, siklus bayi tidak semulus yang dibayangkan. Sedikit saja lapar, haus, atau sakit, dia sampaikan lewat tangisan dan bahasa tubuh.

Dalam hal ini, sensor kepekaan orangtualah yang diuji. Apakah cepat tanggap dengan situasi yang dialami atau sebaliknya, membiarkan bayi menghadapi perubahan dirinya sendiri. Tentu saja Tuhan membekali orangtua dengan "alarm" untuk mengetahui kondisi bayi.

Saat si bayi rewel, misalnya. Anda akan terbangun untuk memantau bayi. Hal ini pun memengaruhi jam tidur. Kalau biasanya Anda berdua tidur selama 8 jam sehari, kini berubah. Anda berdua hanya tidur selama 2-3 jam per hari.

Konsekuensinya tubuh orangtua pun beradaptasi. Awalnya mungkin Anda berdua sangat lelah, bahkan tubuh rasanya tidak fit.

Walaupun "granat" itu lumayan meledakkan emosi dan fisik, justru saat inilah Anda berdua belajar mensyukuri anugerahNya. Bayangkan! Hasil dari pertemuan sel sperma dan sel telur melahirkan sosok bayi luar biasa. Percayalah sayap malaikat bayi itu memberi kesejukan dalam batin. Entah lewat pelukan, ciuman dengan si kecil, timbul semangat baru yang mengiringi Anda berdua setiap kali beraktivitas.

Memasuki Zona Abu-abu

Meski waktunya sebentar, Anda akan merasa berada di zona abu-abu alias masih meraba-raba, tapi hal ini cukup menguras tenaga dan pikiran Anda.

1. Ketakutan

Setelah bayi lahir di rumah sakit, dibawa pulang ke rumah, tentulah hidup sebagai keluarga begitu sempurna. Tapi, masih ada yang mengganjal. Sebagai orangtua baru, Anda berdua belum berpengalaman menangani si mungil. Ada saja kekhawatiran yang menghantui Anda berdua, misal "Apa yang harus kita perbuat terhadap bayi ini?".

Cobalah rileks dulu. Pandangi paras si kecil dan sentuhkan diri Anda kepadanya, rasakan nafasnya.

Khawatir sih sah-sah saja, tapi bila porsinya berlebih justru tidak rasional. Jadi bersikaplah bijak, seperti menduga-duga kalau kucing bisa mencekik bayi, dan Moms pun malas keluar rumah.

2. Tidak bisa tidur pulas

Memang, tidur itu penting. Tapi lain persoalan bila kini sudah hadir bayi mungil. Tangisan bayi sering kali menganggu, apalagi bila orangtua lelah. Artinya perlu dilakukan pembagian tugas menjaga si kecil secara bergantian oleh istri dan suami.

3. Buta soal perawatan bayi

Sebagai orangtua baru, banyak pertanyaan menggelayut di benak "Bagaimana saya tahu kalau bayi ini lapar?" umpamanya.

Meski tidak bisa mengerti kebutuhan bayi dalam waktu singkat, justru inilah saatnya proses memahami fenomena bayi, mulai dari tangisan, menyusui, mengganti popok, dan sebagainya.

4. Tergoda melakukan affair

Pulang kantor, suami ingin bercengkrama dengan istri tercinta. Tapi, nyatanya, istri lebih memilih bayi. Urusan perhatian, bahkan bercinta pun kurang dihiraukan istri karena faktor kelelahan mengurus bayi.

Hati-hati loh Dads bisa terjadi affair! Mengapa? Kalau fokusnya hanya perhatian dan bermesraan saja, bisa saja tawaran "cinta" lain menjerat Anda. Karena itu, baik istri maupun suami saling memberi support dan pengertian satu sama lain. Arahkan tujuan Anda berdua kepada buah cinta Anda.

5. Bergandengan tangan mengasuh bayi

Kini, Anda berdua sudah tahu "granat" apa saja yang bertebaran. Tugas berikutnya adalah strategi menghadapi bom bayi ini. Yang jelas, lakukan komunikasi terbuka antara istri dan suami. Bicarakan apa saja yang Anda rasakan selama hadirnya si kecil. Ungkapkan segala suka dan duka Anda.

Selanjutnya, renungkan bersama apa saja rencana-rencana masa depan anak. Sehingga masing-masing mempunyai tanggung jawab terhadap anak. Kemudian biarkan romansa cinta itu tetap berkobar dengan merawat anak bersama-sama

Tip Dukung Anak Bereksperimen

SAAT anak mulai bereksperimen, maka saat itu pula peranan orangtua sebagai pendukung bisa diperlihatkan. Berikut tipnya:


1. Berikan dukungan penuh pada tahap anak mulai mengembangkan keinginannya untuk bereksperimen, atau mencoba segala sesuatu.

2. Berikan informasi-informasi yang dibutuhkan kepada anak terhadap sesuatu yang ingin dicobanya.

3. Biarkan anak tersebut membuat eskperimennya sendiri.

4. Ketika anak telah memutuskan akan mencoba sesuatu yang dipilihnya sendiri, jangan putus untuk memberi dukungan, maka hal ini akan membuat anak tumbuh rasa tanggungjawabnya terhadap keputusan yang dipilihnya.

5. Hilangkan rasa khawatir terhadap keputusan anak, terutama yang memberikan alasan-alasan yang membuat anak takut untuk mencobanya, karena hal itu akan mengakibatkan anak tidak mampu mengembangkan bakat dan kreativitas dirinya.

6. Dengan mencoba hal-hal yang baru, anak akan memperoleh pengalaman yang baru yang di antaranya bisa merangsang kreativitas mereka, namun jika mereka sudah melenceng dari apa yang seharusnya, berikan sedikit teguran dengan cara yang halus

Aman Bersahabat dengan Komputer

MENGENALKAN teknologi komputer pada anak jadi perhatian besar banyak orangtua masa kini. Bagai dua sisi mata uang, jika Anda tak bisa memanfaatkan, maka kerugian yang akan muncul.


Komputer tak lagi monopoli orang kantoran atau usia dewasa. Lihatlah, bahkan kini anak belum bersekolah pun tidak gagap saat harus berkutat dengan komputer.

Menurut American Physical Therapy Association, anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer bisa menyebabkan gangguan fisik. Berikut beberapa cara untuk menghindarinya, seperti okezone kutip dari Health24, Rabu (11/11/2009).

1. Pastikan kakinya menyentuh lantai atau bisa juga diselonjorkan di bangku.

2. Posisikan tubuh dengan benar dan rileks. Sebaiknya jangan biarkan ia memakai komputer sambil berbaring.

3. Jaga jarak dengan layar komputer.

4. Istirahatkan mata dengan mengalihkannya ke arah lain sesering mungkin.

5. Berhenti sejenak setidaknya tiap 20 menit.

6. Renggangkan otot dengan menggeser posisi duduk, lebih bagus jika berdiri.

7. Waspada jika muncul gejala sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, aupun kejang otot.

8. Ajak si kecil untuk menerapkan aturan tersebut. Jadi, Anda bisa lebih tenang saat tak bisa mendampinginya bermain komputer.

Tip Komunikasi Intens Orangtua dan Anak

KOMUNIKASI yang erat dan intens merupakan salah satu upaya membangun ikatan emosional yang kuat antara orangtua dan anak.


Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua:

- Hargai minat anak dengan meluangkan waktu mendengarkan anak bercerita mengenai kegiatannya pada hari itu. Ini bisa dilakukan misalnya saat makan bersama, nonton televisi bersama, atau menjelang tidur.

- Berikan tanggapan atas cerita anak. Dengan demikian, dia merasa didengarkan dan merasa memiliki kendali atas kehidupannya sendiri.

- Upayakan anak tidak sekadar bercerita lisan, tetapi juga menuangkannya dalam tulisan di buku atau surat. Hal ini dapat membantu merangsang perkembangan bahasanya.

- Jadilah sahabat yang baik bagi anak dengan cara menyelami dunianya sehingga akan terjalin keterbukaan dan kepercayaan antara anak dan orangtua. Dengan demikian, anak merasa aman mengungkapkan perasaannya.

- Doronglah anak memecahkan masalah dan menetapkan target.

- Berikan ruang untuk mengeksplorasi dunia luar sehingga anak mengenal banyak hal sekaligus menambah wawasan.

- Manfaatkan waktu luang dan kesempatan yang ada untuk berkomunikasi dengan anak. Gunakan berbagai media seperti telepon, SMS, chatting, surat

Rangsang Perkembangan Anak


DI SAAT anak beranjak remaja, maka anak pun akan mulai sadar akan dirinya sendiri dan saat itu pula anak akan menambah pengalamannya. Dukungan dari orangtua sangat dibutuhkan


Praktisi Emotional Intelligence Parenting dari Radani Emotional Intellegence Parenting Center Hanny Muchtar Darta, Certified EI, PSYCH-K, SET menuturkan bahwa pada usia 13-15 tahun, anak mulai mengembangkan keinginannya untuk bereksperimen (experimentation). Mereka tergerak untuk mencoba segala sesuatu yang diinginlan. Peran orangtua sebagai supporter sangat dibutuhkan. Sebagai orang tua Anda sebaiknya memberikan rangsangan terhadap anak dalam bereksperimen itu.

"Memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan kepada anak terhadap sesuatu yang ingin dicobanya menjadi satu hal yang bijak sebagai orangtua dalam mendukung anak," ucapnya. Biarkanlah anak tersebut membuat eskperimennya sendiri. Ketika anak telah memutuskan akan mencoba sesuatu yang dipilihnya sendiri.

Hal tersebut akan menumbuhkan tanggungjawabnya terhadap keputusan yang dipilihnya. Hal itu lebih baik dibandingkan jika orangtua yang menentukan keputusannya. Sehingga apabila si anak melakukan kesalahan dalam eksperimennya itu, anak akan langsung menyadari kesalahannya sendiri tanpa perlu diberitahukan oleh orangtuanya.

"Anak yang menyadari kesalahannya sendiri tanpa diberitahu lebih dahulu oleh orangtuanya, itu akan memberikan dampak yang sangat positif," tandas praktisi lulusan pendidikan di Emotional Intelligence Six Seconds USA. Dijelaskan Hanny mengatakan bahwa dari kesadaran itu diharapkan agar anak tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Malah anak akan berfikir sendiri untuk memperbaiki kesalahannya.

Sebaliknya orangtua jangan mematikan keinginan anak dalam mencoba sesuatu, hanya karena merasa khawatir terhadap keputusan anaknya itu. Apalagi banyak orang tua yang memberikan alasan-alasan yang membuat anak takut untuk mencobanya. Ini justru akan membuat anak tidak mampu mengembangkan bakat dan kreativitas dirinya.

"Potensi yang dimiliki anakpun akan tidak ketahuan dan anak akan sangat ketergantungan kepada orangtuanya terhadap segala sesuatu," ucapnya.

Anak yang tidak dapat mengembangkan kreatifitasnya dan orangtua yang tidak mengetahui potensi apa yang dimiliki anaknya, akan mengakibatkan perkembangan bakat anak akan terhambat.

Misalnya adalah apabila anak ingin membuat makanannya dengan mencoba berbagai menu dan memasaknya sendiri. Orangtua sebaiknya tidak langsung mencegahnya dengan mengatakan bahwa anaknya hanya akan mengotorkan dapur dan hanya akan menghabiskan uang dengan membeli bahan-bahan makanannya. "Jika ini dilakukan, kreativitas anak pupus," tandasnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Psikolog Keluarga, Fabiola P Setiawan Mpsi bahwa dengan mencoba hal-hal yang baru, anak akan memperoleh pengalaman yang baru yang diantaranya bisa merangsang kreativitas mereka.

Karena setiap anak memiliki potensi dan karakteristik kecerdasan yang berbeda, satu dengan yang lain, maka mereka pun akan bereksperimen dengan apa yang mereka inginkan. Peran orangtua sangat diperlukan untuk mengasah potensi kecerdasan anak supaya berkembang secara optimal.

"Banyak penelitian yang menyebutkan, perkembangan otak anak dipengaruhi faktor genetik, nutrisi, dan stimulasi. Dan komponen stimulasi ini bisa didapatkan dari bermain termasuk bereksperimen," ucap psikolog anak dari Universitas Atmajaya Jakarta ini.

Eksperimen tersebut akan menstimulasi terhadap seluruh panca inderanya. Seperti saat mendengar, melihat, meraba, menghirup, dan mengecap, yang akan menjadi bekal bagi perkembangan sel-sel otak yang memang seharusnya diberikan sejak dini.

"Dengan eksperimen, akan meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri pada anak," ujar psikolog yang berpraktek di Klinik Pela 9 kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Fabiola berpesan kepada orangtua agar terus mendukung apa yang dilakukan terhadap anak termasuk dalam hal eksperimen mereka, selama itu postif.