Rabu, 04 November 2009

Ibu Teraniaya, Anak Gagal Tumbuh

IBU memegang peran kunci dalam keluarga. Jika seorang ibu teraniaya atau mendapat tindak kekerasan, keturunannya berisiko terlahir dengan bobot rendah atau tumbuh sebagai anak kerdil.

Tumbuh-kembang anak selain ditentukan asupan gizi memadai, ternyata juga dipengaruhi kondisi psikososial ibunya. Pernyataan ini setidaknya terbukti melalui sebuah studi terbaru di Bangladesh.

Studi yang diterbitkan Archives of Disease in Childhood edisi Oktober 2009 ini menyimpulkan bahwa anak-anak yang terlahir dari ibu yang mengalami tindak kekerasan (abuse), berisiko terlahir dengan badan kecil dan tumbuh-kembangnya jadi terhambat alias kerdil.

Studi terdahulu menunjukkan bahwasanya kekerasan fisik dan seksual pada perempuan, terkait dengan risiko mereka untuk melahirkan bayi dengan kondisi berat badan lahir rendah (BBLR), juga terkait peningkatan risiko kematian dini pada janin.

Untuk menggali informasi lebih lanjut, Dr Kajsa Asling-Monemi dan timnya dari Universitas Uppsala di Swedia, melakukan pendataan berat lahir dari 3.164 anak dan menganalisis data tumbuh kembangnya hingga usia 2 tahun.

Ibu dari anak-anak ini (total sebanyak 4.436 ibu), sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang tidak bekerja, dengan usia rata-rata 26 tahun saat studi ini dimulai.

Separuh dari ibu-ibu tadi diketahui pernah menjadi korban tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sebanyak 14 persen mengalami kekerasan fisik, seperti ditampar atau didorong, dan 8 persen mengalami lebih banyak lagi model kekerasan fisik seperti dipukul, ditendang, diseret, bahkan dicekik.

Sekitar 8 persen perempuan tersebut juga mengalami sejumlah tindak kekerasan saat hamil. Di samping itu, 24 persen di antaranya dilaporkan mengalami pelecehan seksual, dan 28 persen lainnya juga mengaku pernah mengalami kekerasan psikologis seperti dihina, dipermalukan, dan diintimidasi.

Saat lahir, anak-anak dalam studi tersebut rata-rata memiliki berat 2,7 kg. Sekitar 33 persen di antaranya dikategorikan BBLR, dengan berat 2,5 kg atau kurang. Nah, anak yang masuk kelompok BBLR tersebut kebanyakan terlahir dari ibu yang mengalami KDRT tadi.

Selanjutnya, anak-anak yang terlahir dari ibu yang mengalami KDRT hampir 42 persennya sangat kurus, 13 persen kurang makan, dan lebih dari 55 persen mengalami gangguan tumbuh-kembang, yakni kekerdilan saat usia mencapai dua tahun. Sebaliknya, kelompok anak yang terlahir dari ibu yang tidak teraniaya (tidak mengalami KDRT), hanya 37 persen yang sangat kurus, 11 persen kurang makan, dan hampir 50 persen yang kerdil.

Keterkaitan antara ibu yang teraniaya dan gangguan tumbuhkembang anak kian menguat setelah peneliti menelusuri latar belakang pendidikan ibu, frekuensi melahirkan, dan agama.

Berdasarkan hasil analisis, Asling- Monemi dan timnya menyimpulkan bahwa KDRT yang dialami ibu dapat berdampak terhadap dua hal, yaitu risiko melahirkan bayi yang lebih kecil dari ukuran normal dan keterlambatan pertumbuhan anak hingga usia dua tahun.

Sehat Dimulai Sejak dalam Kandungan

Sehat itu bersifat holistis (menyeluruh). Bukan hanya sehat fisik, melainkan juga mental dan sosial."Ketiga hal ini merupakan bagian penting dari tumbuh-kembang anak," tegas spesialis anak dari RS Asri Jakarta, dr Keumala Pringgardini SpA.

Anak yang sehat biasanya identik dengan cerdas. Nah, kecerdasan anak yang diperoleh dari proses belajar dari lingkungan ini dimulai sejak dalam kandungan. Keumala memaparkan, upaya peningkatan kualitas tumbuh-kembang anak meliputi lima periode, yaitu dimulai sebelum ibu hamil, selama hamil, ketika melahirkan, masa bayi dan balita, hingga masa usia sekolah dan remaja.

"Upaya-upaya ini dilakukan bersama oleh ibu, ayah, keluarga, lingkungan, dan sekolah," papar Keumala dalam talkshow

Anak adalah anugerah yang harus dijaga dan disyukuri kehadirannya. Hal ini sulit dilakukan bilamana ibu tidak memiliki kesiapan fisik, psikis, dan finansial. Itulah sebabnya, setiap kehamilan hendaknya direncanakan.Sebelum hamil, pastikan telah tercipta saling pengertian dan keterbukaan antara pasangan, serta dukungan dari keluarga.

Selain itu, hamil adalah putusan berdua antara istri dan suami, sehingga harus merupakan keinginan dan kesepakatan bersama. Alangkah baiknya bila keluarga dan lingkungan juga mendukung.

Saat ibu dinyatakan hamil, beragam kesiapan fisik dan psikis harus diperhatikan. Untuk kesehatan fisik janin, ibu hamil harus mengonsumsi makanan bergizi dengan menu seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, mineral, zat besi, dan yodium. Selain itu, pantau kesehatan ibu dan janin melalui pemeriksaan kehamilan secara teratur.

Adapun kesiapan psikis, selain dukungan penuh suami dan keluarga, juga perlu ditumbuhkan sikap saling menghargai. Guna merangsang kecerdasan janin, orangtua dapat melakukan stimulasi dini. Caranya dengan merangsang semua indera (sensorik) janin, terutama pendengaran, sentuhan, dan perasaan.

"Putarlah musik yang menyenangkan ibu, atau nyanyikanlah lagu yang disukai ibu dan janin. Aktivitas ini bisa dilakukan sambil mengelus-elus perut ibu, baik oleh si ibu, ayah, maupun anggota keluarga lain seperti nenek dan kakek," saran Keumala.
bertajuk "Anak Sehat dan Cerdas, Orang Tua Cerdik Mengatur Keuangan" di RS Asri, belum lama ini.

Seja o primeiro a comentar

Posting Komentar