skip to main |
skip to sidebar
SIKAP bertanggung jawab tak akan tumbuh dengan sendirinya. Sikap ini perlu dipupuk dan ditumbuhkan. Masa remaja adalah masa yang tepat untuk mulai menanamkan rasa tanggung jawab.
Belakangan ini Silba Arika sering resah. Ibu tiga putra-putri tersebut bingung memikirkan putra sulungnya. Pada usia 27 tahun, putranya tersebut belum juga lulus kuliah. "Saya ingin anak saya cepat lulus kuliah. Padahal dia anak laki-laki terbesar dan seharusnya kan memberi contoh sama kedua adik perempuannya," kata perempuan berusia 50 tahun itu.
Beberapa kali putra tersayangnya itu mencoba membuka usaha. "Tapi tak satu pun yang terlihat hasilnya," tambahnya. Persoalan yang dialami Silba Arika ini mungkin tak akan terjadi bila dia mulai mengajarkan soal tanggung jawab sejak putranya beranjak remaja. Di masa ini, anak harus sudah mulai dikenalkan dengan tanggung jawab.
Rasa tanggung jawab harus mulai ditanamkan saat anak berusia 13-15 tahun. Nah pada masa ini, ibu harus memainkan peran sebagai pendukung. Dikatakan oleh praktisi Emotional Intelligence Parenting dari Radani Emotional Intellegence Parenting Center Hanny Muchtar Darta Certified EI PSYCH-K SET, pada usia 13-15 tahun, anak sudah mulai sadar terhadap keinginan dirinya sendiri (self awareness). Anak mulai memiliki keinginan untuk mencoba segala sesuatu (experimentation) dan mulai mengembangkan perilaku tanggung jawab (responsibility).
"Mereka biasanya senang melampiaskan perasaan dari dirinya," tandas praktisi lulusan pendidikan di Emotional Intelligence Six Seconds USA tahun 2004 dan 2005 ini. Hanny menambahkan, apabila senang, mereka akan senang bersosialisasi seperti berkumpul, bergaul, dan bermain dengan teman-temannya. Anak pun akan selalu mengikuti tren di lingkungannya. Dan apabila kesal, mereka akan langsung mengeluh.
"Anak di usia ini selalu melihat sisi negatif dari permasalahan yang dihadapinya dan selalu bersifat kritis," ujarnya. Dalam tahapan ini yaitu 13-15 tahun, anak-anak telah mengetahui dan sadar akan hal-hal yang baik dan tidak baik yang terjadi pada dirinya dan lingkungannya. Dia akan selalu menceritakan apa yang dialaminya kepada orangtuanya. "Saat inilah peran orangtua sebagai pendukung sangat dibutuhkan anak," ungkap Hanny.
Masih dikatakan Hanny, orangtua sebaiknya berperan dalam menampung keluhan anak dan menjelaskan apa yang menjadi sebab dan akibat dari masalah yang diceritakan oleh si anak. Lakukan dengan pemahaman yang manusiawi dan dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh anak.
"Selanjutnya, orangtua dapat memberikan solusi dari segala yang dikeluhkan anak dengan cara memberi solusi sederhana yang dapat dilakukannya sesuai dengan kemampuannya yang masih terbatas," sarannya.
Pada tahap ini, Anda sebagai orangtua sudah harus mulai memberikan tanggung jawab kepada anak Anda. Karena pada usia 13-15 tahun ini, anak sudah mulai ingin dihargai. Mereka juga ingin orang-orang sekelilingnya memahaminya bahwa mereka bukan anak kecil lagi, walaupun belum dewasa. "Untuk itu, mulailah memberikan tanggung jawab kepada anak yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya," papar Hanny.
Apabila hal ini dilakukan orangtua, maka pertumbuhan si buah hati akan menjadi lebih baik. Anak akan tumbuh rasa tanggung jawabnya dan rasa percaya dirinya.
"Pada intinya, peran orangtua sebagai supporter terhadap anak usia 13-15 tahun adalah mendukung kemajuan anak untuk tumbuh menjadi anak yang memiliki rasa sadar terhadap diri dan lingkungannya," ucapnya.
Hanny berpesan, orangtua harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan terhadap dirinya sendiri. Orangtua pun harus memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan si buah hatinya. "Bagaimanapun, kemajuan sekecil apa pun dari si anak, dapat dijadikan tolak ukur untuk mengukur kemajuan anak. Inilah modal si anak untuk menggapai segala potensi yang ada pada dirinya," tutup Hanny.
Tahapan mengajarkan anak bertanggungjawab adalah tahapan yang paling penting untuk anak dan orangtua. Pada tahap ini orangtua sebaiknya tidak perlu memberitahukan anaknya berkali- kali, hal ini akan mengakibatkan anak menjadi tidak suka dengan orangtuanya, dan yang sering terjadi adalah anak menuduh orangtuanya cerewet. "Orangtua yang lebih banyak memberikan "ceramah" pada anak, adalah orangtua yang tidak memahami perkembangan anaknya yang mulai tumbuh dewasa," ucap Hanny Muchtar Darta.
Di usia ini anak mulai memiliki pandangan dan pendapatnya sendiri dan terutama sekali mereka ingin dihargai. Namun karena orangtua masih memperlakukan anaknya masih seperti saat usia lima tahun, yang segala sesuatunya harus di beritahu.
Selain itu, orangtua juga masih merasa selalu ingin di dengar oleh anaknya dengan menganggap anaknya masih anak kecil yang belum tahu apa-apa dan tidak perlu di dengar. Apabila hal ini terus dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya, dimana orangtua selalu memainkan peranan yang dominan kepada anaknya sejak dari kecil, maka anaknya akan tumbuh menjadi anak yang memiliki ketergantungan yang tinggi kepada orangtuanya hingga dewasa.
Hanny berpesan, kepada orangtua, sebaiknya memberikan kesempatan kepada si anak untuk berbicara mengemukakan pandangan dan pendapatnya. Dengarkan pendapatnya dengan seksama.
"Orangtua sebaiknya melatih sejak dini kepada anaknya untuk memberikan kesempatan dalam mengambil keputusan sendiri," ungkapnya. Orangtua harus mendukung keputusan anaknya dengan konsekuensi siap kapan saja jika anaknya ingin bertanya kepada orangtuanya. Jika anak menemukan kesulitan, orangtua pun harus siap membantunya. Semisal adalah apabila seorang anak yang merasa bosan belajar piano karena telah mengikuti les piano dari kecil dan sudah sanggup memainkannya dengan baik, maka orangtua tidak boleh memaksanya untuk tetap belajar piano.
"Namun orangtua juga tidak boleh mengalah dengan mengikuti kemauan anaknya untuk tidak mempelajari musik sama sekali. Karena musik sangat bermanfaat bagi anak dalam merangsang pertumbuhan otak," ujarnya. Di sinilah peran orangtua sebagai "pendukung" dituntut mencari solusi terbaik untuk si anak.
Posting Komentar