Orangtua Kasar, Anak Jadi Agresif
ORANGTUA kerap memberlakukan "aturan" fisik untuk mendisiplinkan anak. Padahal, tindakan yang mengarah ke fisik, berupa pukulan atau tamparan, kelak akan berdampak negatif pada diri si anak.
Mendidik anak seharusnya dilakukan dengan cara lemah lembut karena anak akan membawa apa yang diajarkan orangtuanya hingga dewasa. Semakin sering seorang anak dipukul saat belia, akan semakin besar kemungkinan dia menjadi sosok yang agresif, mudah cemas, dan selalu merasa tidak aman ketika dewasa.
Bahkan, anak-anak yang dipukul pantatnya cenderung lebih gelisah dan agresif daripada mereka yang tidak pernah mengalaminya. Peneliti mewawancarai para ibu dan anak mereka dari enam negara yang punya norma budaya berbeda berkaitan dengan pelaksanaan disiplin secara fisik. Mereka menemukan bahwa memukul di bagian pantat punya hubungan dengan semakin tingginya tingkat perilaku agresif dan meningkatnya kegelisahan di semua negara yang diselidiki.
Peneliti Jennifer Lansford PhD dan koleganya menyimpulkan bahwa dampak pukulan kelihatannya saling berkaitan. Paling tidak dalam pandangan anak, apakah perlakuan itu melambangkan pengasuhan orangtua yang baik atau buruk? Lansford adalah seorang peneliti di Duke University's Center di departemen yang meneliti masalah anak dan keluarga.
Lansford mengatakan, jika anak-anak melihat bahwa teman mereka juga dipukul, pukulan menjadi pengalaman yang tidak terlalu menyimpang bagi mereka. Namun, jika pengalaman ini tidak terjadi pada diri kawan-kawannya, mereka mungkin akan berpikir bahwa mereka patut menerima hal tersebut lebih karena mereka adalah anak yang nakal atau mereka mungkin memiliki lebih banyak pandangan jelek terhadap orangtua.
Adapun yang termasuk dalam studi ini adalah 336 ibu dan anak mereka yang punya rentang usia antara 6-17 tahun dan tinggal di China, India, Italia, Kenya, Filipina, dan Thailand.
Ibu-ibu ini ditanyai berapa sering mereka melakukan disiplin secara fisik terhadap anak-anak? Semua kelompok juga ditanyai pertimbangan tentang seberapa sering orangtua lain di negara mereka memakai tamparan atau bentuk disiplin fisik lainnya (seperti mengguncang atau pukulan) sebagai satu bentuk hukuman.
Para peneliti juga menanyai sejumlah pertanyaan yang didesain untuk mengukur agresivitas dan kegelisahan di antara anak-anak. Mereka menemukan bahwa ibu di hampir semua negara yang diteliti memakai disiplin secara fisik kepada anak-anak mereka. Lansford mengatakan, ini tidak mengejutkan karena pukulan di pantat di rumah dan sekolah adalah umum di antara orang yang hidup dengan orangtua.
Anak-anak yang paling sedikit dipukul di bagian pantatnya adalah mereka yang tinggal di Thailand. Kembali ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan karena orangtua Thailand cenderung merefleksikan ajaran Buddha yang menekankan kehidupan tanpa kekerasan. Berikutnya ibu-ibu di China yang paling sedikit memakai disiplin fisik, diikuti ibu-ibu di Filipina, Italia, dan India.
Berbeda dengan di Amerika, setelah penelitian dilakukan didapat gambaran tentang perilaku memukul yang oleh para orangtua di sana dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Namun, dalam sebuah studi dinyatakan, 90 persen lebih dari mereka yang disurvei mengakui pernah memukul anak mereka pada usia 3-4 tahun.
Pada studi yang telah dilakukan beberapa waktu lalu, peneliti di Johns Hopkins University menguji perilaku memukul di pantat dan akibatnya di antara kelompok etnik dan rasial yang berbeda pada masyarakatAS. Walaupun pukulan dikaitkan dengan masalah perilaku pada anak-anak berkulit putih, tidak benar jika anak-anak kulit hitam ataupun Hispanik tidak mengalami pemukulan dari orangtua mereka.
Eric Slade PhD, seorang peneliti, mengatakan bahwa pemukulan diterima secara budaya di antara orang kulit hitam dan Hispanik di AS dibandingkan di antara orang kulit putih. Slade menambahkan, sejak studi tentang pukulan secara universal dipercaya berpengaruh terhadap diri seseorang, pengaruh pemukulan pada perilaku pada masa yang akan datang amat sulit untuk diukur.
Dalam ulasan penelitian yang dipublikasikan beberapa waktu lalu, sebanyak 27 studi tentang pemukulan berkaitan dengan lebih banyaknya agresivitas secara fisik terhadap anak yang lain. Slade mengatakan, masalahnya ialah kita tidak benar-benar mengatakan melalui hasil studi kalau suatu pukulanlah yang menyebabkan terjadinya perilaku atau beberapa karakteristik keluarga lainnya yang tidak mudah diukur.
"Anak-anak yang sering sekali dipukul pada masa depannya akan cenderung merasa sendiri, ditinggalkan, dan tidak bisa percaya kepada orang lain," kata Slade









>>
Posting Komentar